Saling Berbagi Yuks......Masalah teratasi, hati menjadi lega

Kamis, 16 September 2010

Hidayah di Hari Lebaran

Pagi itu di atas meja komputer di kamar adikku di rumah ayah, sambil menggendong dan meninabobokan bayi kecilku, aku melihat sebuah majalah Annida. Majalah terbitan 8 tahun lalu, tapi sampul dan judul cerpennya masih membuatku terusik untuk membacanya. Apalagi rasanya sudah lama sekali aku tidak membaca cerpen-cerpen rohani. Sejak aku memulai karir di ibukota Jakarta, waktuku untuk membaca cerita-cerita rohani, pergi ke pengajian atau ikut halaqah dan diskusi islami semakin berkurang dan mulai terkikis dengan kesibukan kantor. Tidak langsung terasa sih, tapi porsinya mulai berkurang, hingga perlahan-lahan ada kegiatan-kegiatan yang tadinya masih bisa kuikuti bersama teman-teman akhwat akhirnya kulakukan di rumah sendiri. Kemudian, kebiasaan baik itu pun mulai terlupakan seiring dengan kesibukan dan karir yang mulai menanjak. Perasaan bersalah yang tadinya muncul, akhirnya hilang diterabas kesibukan dan karir yang kian cemerlang. Di dalam hati mulai membenarkan diri sendiri dengan berkata,"Kan kerja juga ibadah. Apalagi niatnya untuk dapat membiayai hidup sendiri dan membantu keluarga. Yang penting aku tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan agama. Masih jujur, tidak mencuri, tidak menjahati orang lain, tidak menjilat atasan, dll."
Semakin hari hati menjadi semakin kosong karena biasanya ada hafalan surat pendek yang harus diulang, ada target ngaji yang harus dikejar dalam satu hari, ada sholat sunah yang musti dilakukan. Tapi sekarang semuanya mulai terlupakan. Akhirnya yang dilakukan hanyalah menjalankan kewajiban yang lima waktu. Hafalan surat pendek tak lagi bertambah, mengaji mulai menjadi target mingguan bahkan bulanan, sholat sunah kalau lagi ada waktu dan tidak buru-buru aja. Hati ini semakin kosong rasanya. Hal ini berlanjut sampai bertahun-tahun lamanya.. Hingga hari itu tiba dan aku membaca satu cerpen bagus yang menyentil dan menjewerku sedemikian rupa. cerita tentang seorang gadis manis yang penuh dengan kesibukan organisasi islamnya, menjadi ketua pengajian, keputrian, dll. Namun ada kebaikan-kebaikan yang selama ini sudah dijalankan menjadi terabaikan. Dia hanya bisa mengingatkan orang lain namun ibadahnya menjadi kendur. Dia bagaikan lilin yang menerangi oranng lain tapi membakar dirinya sendiri. Sejak saat itu, aku bertekad dalam hati untuk menjadi orang yang lebih sabar menghadapi hidup, memulai dan melakukan semua tugas sebagai istri dan ibu untuk ketiga anakku hanya karena Allah. Ingin mulai kembali mengaji secara rutin dan berkesinambungan, kembali melakukan sholat malam dan menambah pengetahuan dan ilmuku tentang islam sehingga apapun yang kulakukan bernilai ibadah dan mendapat ridho-Nya karena sesuai dengaan tuntunan-Nya. Kulakukan semua ini karena aku tidak mau hidupku ini hanya menjadi sebuah kesia-siaan dan berkubang dengan kemudharatan. Aku takut jika nanti sudah waktuku menghadapnya, lidahku kelu tak bisa menyebut nama-Nya. Dan aku takut nanti di yaumil Akhir aku diberikan buku catatan hidupku di dunia dari sebelah kiri.
Untuk mewujudkan impian dan cita-citaku memperbaiki diri, aku mulai dari satu langkah nyata. Aku memutuskan untuk berhenti bekerja di kantorku dan meninggalkan jabatan Manager HRD yang selama ini aku pegang. Aku memutuskan untuk memfokuskan perhatian pada ketiga anak-anakku yang diamanahi oleh Allah. Sehingga aku bisa mendidik mereka dengan maksimal dan mengajarkan nilai-nilai islam dari sejak dini. Karena kelak kalau mereka menjadi hamba-hamba-Nya yang sholeh dan sholehah, aku dapat menghadap Ilahi dengan tersenyum. Aku yakin, dengan keluarnya aku dari pekerjaan kantor, sudah banyak pekerjaan rumah yang menungguku dan tak akan pernah usai. Sesungguhnya pekerjaan yang paling mulia untuk seorang wanita adalah menjadi ibu dan istri seutuhnya. Kalaupun aku harus bekerja dan membantu suamiku mencari nafkah, akan aku lakukan dari rumah saja agar aku tetap bisa maksimal memperhatikan perkembangan anak-anakku.
Tak terasa, indahnya cerpen yang kubaca dan serunya diskusi dengan adikku di Bandung, telah membuahkan hasil yang besar. Satu langkah awal yang insyaallah akan membawa langkahku lebih ringan untuk kembali mengisi hati dan hari-hariku dengan ridho dan hidayah-Nya sehingga aku berharap kelak bisa tersenyum pada saatnya aku menghadap kekasih sejatiku. Ya Allah, mudahkanlah langkahku mencari keridhoan-Mu. Kuatkan dan sabarkanlah aku dalam menghadapi godaan dunia sehingga hamba bisa mendapatkan hidayah-Mu untuk mencium dan memasuki surga-Mu. Mudah-mudahan kekosongan hati ini segera berganti menjadi keindahan dan keceriaan yang dapat membuat hamba lebih berarti bagi orang lain dan menjadi hamba-Mu yang taat ya Allah.


Parung, 16 September 2010

Ingin kerja dari rumah dan tetap dapat menambah pemasukan rumah tangga? Disini jawabannya!





3 komentar:

  1. Bundaaaa..................bagus banget tulisannya.
    Menyentuh sekali, jadi nangis euy.....
    Mudah2an kita bisa jadi bunda yg tersenyum itu ya....amiiin......

    BalasHapus
  2. Jadi terharu jeng..
    Salut banget.. akhirnya kamu berani juga ambil keputusan yg bijaksana itu :)

    Yup, "PR" seorang ibu itu gak akan ada habisnya.. Semoga langkah itu akan segera ku ikuti ya jeng Nita..

    Dengan doa & kemantapan hati, kita pasti bisa bekerja dari rumah saja krn tugas utama seorang ibu adalah membahagiakan keluarganya. Amiiinnn.

    BalasHapus
  3. dirimu resign???
    aku gimana???

    *bunuh diri aja deh*
    wkwkwk...

    BalasHapus