by Silpi Widia on Friday, September 24, 2010 at 10:15pm
Syahdu, yaaah begitulah rasanya. Hujan yang turun sejak siang tadi pun memainkan musik alam yang menyatu dalam simfoni kesyukuran. Tangis yang pecah di tiga tempat menyatu dalam riak-riak hujan yang membelai lembut dedaunan.
Lampu-lampu kota yang temaram menambah indahnya pemandangan malam yang kunikmati di atas sepeda motor kesayanganku.
Duduk di belakang, tersembunyi di balik pundak kakakku yang hangat, aku mulai memainkan laguku sendiri. Alunannya lirih namun tetap terdengar di sela derasnya hujan.
Lagu mampu memainkan musik sejuta nada. Lagu memiliki sihir pada masing-masing orang. Begitu pula bagiku, dan sihir itu bertahan, menari-nari dalam hati, telinga, dan otakku.
Aku bahagia, sungguh! Aku bahagia atas kelulusan kakakku. Allah sungguh baik karena selalu memberikan apa yang kupinta pada-Nya. Meski demikian, ada sesuatu yang lain yang terbersit dalam hatiku. Sesuatu yang hitam dan menggumpal, sebongkah rasa hampa yang bergerak-gerak gelisah di sudut hatiku.
Dia bukan sosok yang asing dalam hatiku. Hanya saja, bongkahan gelisah itu tak pernah menggangguku seperti saat ini sebelumnya. Biasanya ia hanya mengintip malu-malu dari balik sekat-sekat labirin dalam hatiku untuk kemudian kembali bersembunyi dalam kegelapan. Aku tak pernah menyangka bahwa selama ini ia tengah mencari jalan keluar. Dan kini, ia menemukannya.
Sebuah kalimat yang diutarakan kakakku padaku berfungsi seperti mantra bagi bongkahan rasa hampa dalam hatiku. Mantra yang mampu membongkar segel gaib yang selama ini melindungi labirin hatiku untuk kemudian memberi bongkahan itu jalan keluar menuju kebebasan. Mau tau apa mantranya? Hanya sebuah kalimat sederhana...
"Ayah menangis ketika mendengar kakak lulus..."Sebuah kalimat sederhana yang mampu menohok hatiku dan menguras air mataku. Ada rasa malu dan was-was yang melingkupi benakku.
Ya Allah...hamba juga ingin lulus dan melihat senyum kebahagiaan tersungging di bibir kedua orang tuaku dengan dihiasi mata yang berbinar-binar karena haru. Ingin sekali aku memberikan hadiah kelulusan pada dua orang yang sungguh luar biasa dalam hidupku.
Ayahku adalah seorang pensiuan yang membaktikan seluruh hidupnya untuk memberikan penghidupan dan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya. Bagi ayah, kami harus bisa menjadi orang sukses, lebih dari apa yang telah ayah capai dan peroleh selama hidupnya. Bukan untuk diri ayah, tapi untuk kami dan masa depan kami--anak-anaknya.
Sementara Ibu adalah sosok luar biasa yang selalu melindungi kami dan memberi rasa nyaman pada kami. Hanya dengan sebuah pelukan dari ibu, semua beban yang ada di pundak kami terangkat. Sungguh sosok yang luar biasa.
Ayah dan ibu adalah sosok sederhana yang punya cinta dan kasih sayang yang luar biasa. Ayah hanya seorang lulusan SMA, sementara ibu hanya tamat SMP. Ayah sudah pensiun sejak aku SD karena sakit-sakitan. Tapi lihat, sosok luar biasa itu mampu menyekolahkan kami--5 anak-anak beliau, hingga perguruan tinggi dengan keringatnya sendiri tanpa bantuan siapa pun. Ayah selalu mengajari kami untuk senantiasa berjuang dalam hidup. Ayahku yang bahkan enggan membeli baju baru dan lebih memilih mengenakan pakaian lamanya yang sudah lusuh dengan sandal bututnya karena beliau ingin menyimpan uangnya untuk membiayai kami sekolah. Beliau ingin memastikan bahwa kami semua mendapatkan kesempatan yang sama untuk meraih pendidikan, yakni hingga perguruan tinggi. Ayah bahkan rela menggunakan angkutan umum (angkot) ketimbang taksi selepas cuci darah hanya karena ingin menyisihkan uang dan waktunya untuk berhenti sebentar di mini market dan membelikan es krim bagi kami anak-anaknya tanpa menghiraukan betapa lemahnya badannya saat itu.
Dan Allah yang senantiasa memeluk mimpi-mimpi ayah, mengabulkan do'a dan kerja keras ayahku. Kami berlima mampu bersekolah hingga perguruan tinggi. Dan kini satu anak beliau telah lulus lagi. Empat sudah anak ayah dan ibu yang sudah lulus dan menyandang gelar sarjana. Abangku yang pertama adalah lulusan ilmu manajemen UNISBA. kakakku yang kedua lulusan psikologi UI. Abangku yang ketika lulusan HI UGM. Dan kakakku yang keempat lulusan Biologi ITB.
Lihat! Sebesar apa senyuman ayahku. Tapi tetap saja senyuman itu belum sepenuhnya sempurna. Karena aku, anak terakhir dalam keluargaku, yang selalu dicap sebagai "anak kesayangan ayah" nyatanya belum memberikan hadiah kelulusan pada ayahku. Dan aku merasa bersalah, baik pada ayah, ibu, maupun kakak-kakakku.
Ibuku yang penyayang dan perhatian tahu bahwa ada sesuatu yang tak beres pada diriku. Seringkali aku mendapati ibu menatapku dengan cemas dan kemudian menanyaiku, "Ada apa, nak?". Ibuku yang lugu nyatanya mampu berperan layaknya seorang psikolog handal di hadapanku. Ibu yang selalu memeluk dan menciumku untuk menenangkanku. Tanpa ibu, aku seperti burung yang patah sayapnya. Ibu adalah kekuatanku. Tapi aku tak mampu menjelaskan pada ibu apa yang meresahkanku karena sebenarnya tanpa bertanya pun ibuku yang luar biasa itu selalu tahu apa yang tengah kurasakan.
Aku malu ya Allah...malu dan takut..sekaligus merasa ditinggalkan. Aku takut jika aku tak mempunyai cukup waktu untuk mewujudkan impian ibu dan ayah. Bagaimana jika sebelum aku lulus Allah telah memanggil ibu atau ayahku, rasanya berat membayangkan aku diwisuda tanpa kehadiran salah satu dari dua orang yang sangat berjasa dalam hidupku (aku tak bisa membayangkan jika keduanya tak ada). Dan bagaimana jika waktuku di dunia habis lebih dahulu dibandingkan kelulusanku? meninggalkan impian orang tuaku berakhir sebagai angan-angan kosong...
Ya Allah..bantu hamba untuk berjuang meraih kelulusan. Berikan hamba kekuatan dan waktu yang cukup untuk meraihnya. Tuntun hamba dengan cahaya-Mu, lindungi hamba dengan kasih sayang-Mu. Jadikanlah skripsi hamba berguna bagi banyak orang. Amiin ya Robbal alamiin...
*teman..ayo berjuang meraih kelulusan kita. wujudkan harapan orang-orang yang kita cintai karena kita tak punya jaminan apa-apa soal waktu yang kita miliki di dunia ini. GANBAREEEE!!!!SMANGKAAAAA!!!
-cimahi yang basah, 24 september 2010, catatan mahasiswi yang tengah berjuang menyelesaikan skripsi-