Saling Berbagi Yuks......Masalah teratasi, hati menjadi lega

Jumat, 17 September 2010

Abang tidak mau bunda meninggal

Kemarin malam putri bungsuku rewel sekali, sampai jam 12 malam dia belum juga tidur. Entahlah kenapa. Mungkin ada yang dirasakannya. Mungkin badannya pegal-pegal karena kebanyakan di gendong. Yah, putri bungsuku umurnya baru 41 hari. Badan ini rasanya sudah capai sekali. Letih yang tiada terkira. Dibawa duduk salah, digendong salah, disusui salah, dinyanyikan pun salah. Paling-paling hanya diam 5 menit terus nangis lagi.

Malam itu, abangnya pun belum tidur juga. Mungkin karena tadi siang sudah tidur cukup lama dan bangunnya sudah menjelang maghrib. Ariel namanya. Dia ikut menemani aku sambil sesekali menghibur dan mengajak adiknya bicara. "Kenapa esha? Kok belum tidur juga? Cup, cup, cup sayang. Bobo dong dek, kan bundanya capek." Hatiku terhibur juga mendengar ocehannya yang pintar dan lucu itu. Kadang-kadang dia berkata, "Adek kok nangis terus sih? Sakit perut ya? Mungkin adiknya buang air besar (bilangnya sih be__k)   bun. " Ada-ada saja yang dicelotehinya.

Abang memang termasuk anak yang cepat bicara dan mudah memahami sesuatu. Dari umur 5 bulanan dia sudah bisa bilang ayah. Ketika di umur satu tahun dimana sudah banyak kata yang dia bisa pun, dia bicara dengan jelas dan tidak cadel. Anak sulungku ini memang cepat dalam menangkap bahasa dan pemahaman akan suatu peristiwa. Mau  lihat photonya abang ketika diwisuda pas lulus TK? nih, aku kasih lihat ya....sekarang sih umurnya udah 6 tahun dan dia sudah duduk di kelas 2 SD.


Saat itu abang tidak selalu duduk atau ataupun jalan-jalan menemaniku meninabobokan adiknya. Dia terkadang tidur-tiduran sambilmenghadap ke tembok. Pada suatu saat dimana aku mengiranya sudah tertidur, tiba-tiba kudengar suara isak tangisnya. 'Abang kenapa nak? Kok nangis?" Abang kemudian melihat padaku dan menjawab : " Bun, abang ngak mau bunda meninggal. Abang sedih kalau bunda meninggal. Gimana nanti Abang, Aura dan adek Esha?"
"Kok abang tiba-tiba ngomong begitu sih nak? Tiba-tiba ngomong soal meninggal? Memangnya ada apa nak?"
" Iya, abang ngak mau bunda meninggal kayak uci (panggilan untuk nenek dalam bahasa minang). Abang kan sedih. Abang ngak kebayang aja kalau bunda meninggal. Abang pengennya bunda ada terus untuk nemenin Abang, Aura dan adek Esha. Abang sayang sama bunda"
"Semua orang memang harus meninggal nak. Sudah lah, abang bobok aja dulu ya sayang. Baca do'a dulu sebelum tidur. Insyaallah ngak akan apa-apa. Mudah-mudahan bunda masih disini kok. Lagian kan ada ayah."

Nyes, ada suatu rasa senang, bingung, haru, dan takut di dalam hatiku. Senang karena ternyata anakku yang sulung teramat sangat menyayangiku dan takut kehilangan diriku. Senang juga karena dia faham artinya meninggal (pergi dan tidak kembali lagi....ini versi dia loh. Dia sudah melihat ucinya meninggal dan dimakamkan). Bingung karena aku harus bisa menjelaskan dengan lebih baik lagi tentang "mati" kepada anakku yang masih berusia 6 tahun. Dan bahwa semua orang harus mengalaminya. Namun aku mau dia tidak takut dengan kematian dan bisa menjadikan moment ini untuk mengajaknya menjadi anak yang lebih taat agama. Haru karena aku tahu bahwa walaupun dia masih 6 tahun tapi sepertinya fikirannya sudah jauh di atas itu. Dia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tapi juga kedua adiknya. Takut karena aku sendiri berkaca pada diriku, sebenarnya apa yang sudah aku persiapkan jika malaikat maut menjemputku.

Akhirnya, tadi sore sambil memandikan Esha aku ceritakan hal ini kepada ayahnya. Aku sharing dengan ayahnya agar kami dapat bersama-sama menjelaskan tentang "mati" kepada Abang dan Uni Aura. Setelah kami berbincang-bincang, kami putuskan nanti pada saat kami kumpul kami akan menjelaskannya kepada anak-anak.

Sehabis sholat maghrib berjamaah, aku dan ayahnya serta anak-anak kumpul di kamar disamping si kecil yang sedang tertidur lelap. Aku bertanya pada Abang, "Bang, kenapa kemarin nanya mengenai bunda meninggal? Memangnya abang sedih kalau bunda meninggal? Kalau ayah yang meninggal gimana perasaan abang?" Pertanyaan pancingan itu sengaja aku lontarkan. Aku ingin tahu cara berfikirnya abang. Dia menjawab, " Abang sedih lah kalau ayah meninggal. Bunda sama ayah ngak boleh meninggal. Semuanya keluarga abang ngak ada yang boleh meninggal."

Aku bilang padanya : " Bang, semua orang pasti akan meninggal. Ngak ada yang akan hidup selamanya. Seperti uci contohnya." Ayahnya kemudian menyambung," Iya nak. semua yang bernyawa pasti mati. ayahnya bahkan menyebut bahasa arabnya (tapi aku rada-rada  lupa euy.... nanti ditulis takut salah)." Kemudian ayahnya bilang, " Makanya kita harus mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya malaikat maut supaya nanti kita bisa kumpul di surga. Jadi abang ngak boleh takut ya."
"Yang penting abang sholat lima waktu ya yah."
"Ngak cuma sholat nak. Harus nurut sama orang tua, rajin membaca Al-Qur'an. Sayang sama adik. Dan mau menolong orang yang lagi kesusahan."

"Biar kita masuk surga ya yah? Nanti kalau di surga gimana abang bisa kenalin ayah ama bunda? kata ayah kan semua orang yang masuk surga jadi muda lagi." (ayahnya memang pernah menjelaskan tentang surga dan neraka).
Akhirnya ayahnya menjelaskan lagi mengenai surga dan neraka. Mengapa orang yang masuk surga tidak ada yang orang tua dan anak-anak. (tapi ngak disini ngebahasnya ya...bisa ngak selesai-selesai ini tulisan. Nanti kita bahas di topik yang berbeda. udah jam 11 lebih nih. Takut Esha keburu bangun).

Itulah pengalamanku kemarin. Sayang kan kalau ngak di bagi di sini. Anak-anak itu polos loh, tapi pertanyaan yang mereka ajukan bisa sangat kompleks dan kita harus selalu siap menjawabnya. Fikiran mereka itu kadang sulit diduga. Terkadang kita tidak menyangka mereka bisa bertanya sejauh itu. So, sebagai orang tua kita harus selalu mempersiapkan diri untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan mereka dengan bahasa mereka. Sayang kan usia keemasannya kalau kita sia-siakan begitu saja sementara mereka bisa menangkap sangat banyak informasi dan pengetahuan.

Satu lagi, anak-anak dapat menjadi sahabat kita untuk mengingatkan kita akan banyak hal. Seperti curhatku hari ini, abang sudah mengingatkanku untuk selalu ingat akan kematian karena dia pasti akan datang dan kita tidak tahu kapan dia menjemput. So, persiapkan bekalnya dari sekarang.



http://www.dbcn-kerjadirumah.com/?id=kireikutekawaidesu

1 komentar:

  1. sampe haru baca nya... abang sifatnya sama halqin anak lia teh.. kadang seperti itu... yg mengingatkan lia tentang hidup ya anak2... 1 point yg lia dapat dr sharing teteh.. lia harus bisa lbh bijak jg legowo jalani hidup dan selain wajib beribadah dan beramal.. karna semuanya adalah hanya untuk Allah.. makasih teh tulisan nya...

    BalasHapus