Saling Berbagi Yuks......Masalah teratasi, hati menjadi lega

Sabtu, 18 September 2010

Belajar Motivasi dari Seorang Gadis Tuna Netra

 Siang ini aku mendapatkan pelajaran dari seorang gadis tuna netra yang tidak aku kenal. Aku melihatnya di acara pencarian bakat di salah satu tv swasta. Gadis itu berusia 20 tahunan. Sekilas dari penampilannya terlihat biasa saja dengan menggunakan jilbabnya. Tak ada yang istimewa. Bahkan kita jauh lebih beruntung dari dia karena kita bisa melihat indahnya dunia ini. Sementara dia tidak dapat melihat betapa beragam dan semaraknya dunia ini dengan berbagai bunga dan warna-warni di seluruh penjurunya.

Namun yang membedakan dia dari orang kebanyakan adalah keberaniannya mengikuti ajang pencarian bakat berskala nasional. Ketika awal aku melihatnya aku berfikir, apakah kepercayaan dirinya didukung oleh kemampuannya? Terbersit rasa penasaran di hatiku. Karena kan tidak sedikit orang yang punya percaya diri tinggi tapi tidak disertai dengan kemampuan dan keahlian yang tinggi juga. Aku menunggu dengan rasa tak sabar dan penasaran apa yang akan ditampilkan oleh gadis itu. Pertama naik panggung, para juri menanyakan namanya dan apa yang akan dipersembahkannya di panggung itu? Dia menjawab namanya dan akan menampilka atraksi panggung bermain gitar dan bernyanyi.

Aku semakin penasaran, bagaimana caranya akan memainkan gitar itu. Karena ibunya menaruh gitar itu dipangkuannya seperti kecapi (gitarnya ditelentangkan di pangkuannya). Tak lama kemudian dia memainkan gitar tersebut dengan uniknya. Suara gitar itu bergema ditingkahi suara gadis itu yang merdu menyanyikan sebuah lagu. O, ternyata dia memang bisa bermain gitar sekaligus menyanyi dengan bagus. Bulu kudukku merinding melihat kemampuannya bermain gitar dan bernyanyi. Ada setetes bening air mata yang mengalir di sudut mataku. Aku terharu melihatnya. Subhanallah. Talentanya memang besar. Tapi yang pasti perjuangan dan pengorbanannya untuk bisa bermain gitar dan bernyanyi seperti itu pasti membutuhkan usaha yang sangat besar dan semangat yang tak pernah padam.

Selesai dia menunjukkan kebolehannya, juri bertanya sejak umur berapa dia belajar main gitar. Karena kita yang punya angota tubuh lengkap saja belum tentu bisa bermain gitar dengan baik. Butuh bakat khusus pastinya. Aku aja ngak bisa-bisa tuh belajar main gitar. Hanya tahu beberapa kunci saja. Begitu disuruh menyanyikan lagu dan menggabungkan beberapa kunci jadinya kurang harmoni...he.he..he..Pastilah gadis ini belajar dengan susah payah dan butuh keteguhan mental yang kuat. Benar, ternyata dia belajar main gitar sejak usia 1 tahun. Kebayang kan sudah berapa lama dia mempelajarinya. Dan kebayang juga ngak bagaimana caranya dia harus menemukan cara supaya bisa tahu itu kunci G, D, atau lain-lainnya. Kebayang juga kan bagaimana dia harus menggabungkan kunci-kunci itu menjadi sebuah lagu.Sungguh bukan pekerjaan yang mudah. Karena dia harus mengandalkan pendengaran dan rasa musikalitasnya yang tinggi.

Buat teman-teman yang sedang merasa putus asa, sedih, merasa paling malang, merasa lagi drop semangatnya, ingatlah akan gadis tuna netra di cerita ini. Cepatlah kembali raih semangatmu untuk menggapai semua yang sedang kamu kerjakan, yang sedang kamu usahakan. Jangan pernah menyerah. Kita dibekali begitu banyak kelebihan oleh Allah,  manfaatkanlah. Kalau kita gagal dalam berusaha, coba dan cobalah lagi. Jangan pernah menyerah. Karena tak ada kata menyerah untuk seorang pemenang sejati. Tidak ada yang kita tidak bisa lakukan di dunia ini. Yang ada hanyalah kita belum tahu caranya (ini mengambil kata-kata mantan bos di kantorku). Jadi, temukan caranya. Jangan terpaku hanya dengan satu atau dua cara, cari cara-cara baru yang mungkin berbeda dari orang lain. Jangan ragu untuk mencoba. Lebih baik seribu kali gagal daripada hanya diam ditempat tanpa melakukan apapun. Karena yakinlah setelah kita mencoba satu atau seribu usaha, kita tidak akan pernah sama dengan orang yang hanya diam saja. Karena kita sudah bergerak dan berpindah lebih maju lagi. Hanya waktu yang akan membuktikan semuanya. Mungkin sekarang hasilnya belum sesuai dengan harapan kita, tapi yakinlah kalau kita terus berusaha dan mencoba tanpa mengenal lelah suatu saat hasil itu akan datang pada kita. Dan kita akan tersenyum karenanya.

Salam sukses untuk semua teman-teman yang tidak pernah berhenti berjuang dalam hidup.


http://www.dbcn-menebusimpian.com/?id=kireikutekawaidesu

Jumat, 17 September 2010

Setiap pagi aku bangun rasanya malas sekali tetapi mau tidak mau harus tetap kubuka mata ini untuk segera berangkat ke kantor, ku lihat putraku rasanya berat sekali meninggalkannya dirumah walaupun dia dijaga oleh mamaku. Aku sangat bersyukur diberikan mama yang sangat baik oleh Tuhan, walaupun jujur aku sering mengecewakan beliau tetapi dia tetap menyayangiku. mamaku selalu menjaga anakku bila aku bekerja.
Jujur aku sebenarnya sudah terlalu lelah bekerja apalagi dengan suasana kantor yang kadang kurang mendukung, Capek sekali rasanya, bukan hanya badan tapi juga hati dan perasaan. Tetapi mau tidak mau aku harus tetap bekerja untuk anakku, apalagi suamiku belum mempunyai pekerjaan yang tetap, jadi perekonomian kami aku yang tanggung semuanya. Jadi kalau aku berhenti kerja anakku mau makan apa? Aku juga tidak enak numpang terus sama orang tuaku walaupun beliau tidak merasa keberatan.  Tapi aku tetap merasa tidak enak. Aku ingin keluar dari kesulitan ekonomi yang sekarang aku alami.
Sudah hampir setahun belakangan ini aku bergabung di bisnis online.  Jujur itu sangat membantu aku dalam keuangan, tetapi belum sepenuhnya karena sampai sekarang aku belum bisa merekrut satu orangpun untuk menjadi downlineku. Upline sudah membantuku dengan memberikanku downline-downline.  Tapi aku tidak tahu mengapa begitu aku hubungi mereka, mereka tidak menjawab.  Aku coba buat iklan gratis di berbagai situs pemasangan iklan gratis tapi juga tidak ada hasil. Jujur aku bingung sekali.
walaupun begitu aku tetap bersyukur mempunyai upline-upline yang tangguh dan  baik hati.  Mereka tetap mendukungku juga membantuku dalam bisnis  ini.
sampai sekarang aku tetap berusaha membangun jaringanku untuk mendapatkan keuntungan yang lebih lagi demi anakku.

Abang tidak mau bunda meninggal

Kemarin malam putri bungsuku rewel sekali, sampai jam 12 malam dia belum juga tidur. Entahlah kenapa. Mungkin ada yang dirasakannya. Mungkin badannya pegal-pegal karena kebanyakan di gendong. Yah, putri bungsuku umurnya baru 41 hari. Badan ini rasanya sudah capai sekali. Letih yang tiada terkira. Dibawa duduk salah, digendong salah, disusui salah, dinyanyikan pun salah. Paling-paling hanya diam 5 menit terus nangis lagi.

Malam itu, abangnya pun belum tidur juga. Mungkin karena tadi siang sudah tidur cukup lama dan bangunnya sudah menjelang maghrib. Ariel namanya. Dia ikut menemani aku sambil sesekali menghibur dan mengajak adiknya bicara. "Kenapa esha? Kok belum tidur juga? Cup, cup, cup sayang. Bobo dong dek, kan bundanya capek." Hatiku terhibur juga mendengar ocehannya yang pintar dan lucu itu. Kadang-kadang dia berkata, "Adek kok nangis terus sih? Sakit perut ya? Mungkin adiknya buang air besar (bilangnya sih be__k)   bun. " Ada-ada saja yang dicelotehinya.

Abang memang termasuk anak yang cepat bicara dan mudah memahami sesuatu. Dari umur 5 bulanan dia sudah bisa bilang ayah. Ketika di umur satu tahun dimana sudah banyak kata yang dia bisa pun, dia bicara dengan jelas dan tidak cadel. Anak sulungku ini memang cepat dalam menangkap bahasa dan pemahaman akan suatu peristiwa. Mau  lihat photonya abang ketika diwisuda pas lulus TK? nih, aku kasih lihat ya....sekarang sih umurnya udah 6 tahun dan dia sudah duduk di kelas 2 SD.


Saat itu abang tidak selalu duduk atau ataupun jalan-jalan menemaniku meninabobokan adiknya. Dia terkadang tidur-tiduran sambilmenghadap ke tembok. Pada suatu saat dimana aku mengiranya sudah tertidur, tiba-tiba kudengar suara isak tangisnya. 'Abang kenapa nak? Kok nangis?" Abang kemudian melihat padaku dan menjawab : " Bun, abang ngak mau bunda meninggal. Abang sedih kalau bunda meninggal. Gimana nanti Abang, Aura dan adek Esha?"
"Kok abang tiba-tiba ngomong begitu sih nak? Tiba-tiba ngomong soal meninggal? Memangnya ada apa nak?"
" Iya, abang ngak mau bunda meninggal kayak uci (panggilan untuk nenek dalam bahasa minang). Abang kan sedih. Abang ngak kebayang aja kalau bunda meninggal. Abang pengennya bunda ada terus untuk nemenin Abang, Aura dan adek Esha. Abang sayang sama bunda"
"Semua orang memang harus meninggal nak. Sudah lah, abang bobok aja dulu ya sayang. Baca do'a dulu sebelum tidur. Insyaallah ngak akan apa-apa. Mudah-mudahan bunda masih disini kok. Lagian kan ada ayah."

Nyes, ada suatu rasa senang, bingung, haru, dan takut di dalam hatiku. Senang karena ternyata anakku yang sulung teramat sangat menyayangiku dan takut kehilangan diriku. Senang juga karena dia faham artinya meninggal (pergi dan tidak kembali lagi....ini versi dia loh. Dia sudah melihat ucinya meninggal dan dimakamkan). Bingung karena aku harus bisa menjelaskan dengan lebih baik lagi tentang "mati" kepada anakku yang masih berusia 6 tahun. Dan bahwa semua orang harus mengalaminya. Namun aku mau dia tidak takut dengan kematian dan bisa menjadikan moment ini untuk mengajaknya menjadi anak yang lebih taat agama. Haru karena aku tahu bahwa walaupun dia masih 6 tahun tapi sepertinya fikirannya sudah jauh di atas itu. Dia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tapi juga kedua adiknya. Takut karena aku sendiri berkaca pada diriku, sebenarnya apa yang sudah aku persiapkan jika malaikat maut menjemputku.

Akhirnya, tadi sore sambil memandikan Esha aku ceritakan hal ini kepada ayahnya. Aku sharing dengan ayahnya agar kami dapat bersama-sama menjelaskan tentang "mati" kepada Abang dan Uni Aura. Setelah kami berbincang-bincang, kami putuskan nanti pada saat kami kumpul kami akan menjelaskannya kepada anak-anak.

Sehabis sholat maghrib berjamaah, aku dan ayahnya serta anak-anak kumpul di kamar disamping si kecil yang sedang tertidur lelap. Aku bertanya pada Abang, "Bang, kenapa kemarin nanya mengenai bunda meninggal? Memangnya abang sedih kalau bunda meninggal? Kalau ayah yang meninggal gimana perasaan abang?" Pertanyaan pancingan itu sengaja aku lontarkan. Aku ingin tahu cara berfikirnya abang. Dia menjawab, " Abang sedih lah kalau ayah meninggal. Bunda sama ayah ngak boleh meninggal. Semuanya keluarga abang ngak ada yang boleh meninggal."

Aku bilang padanya : " Bang, semua orang pasti akan meninggal. Ngak ada yang akan hidup selamanya. Seperti uci contohnya." Ayahnya kemudian menyambung," Iya nak. semua yang bernyawa pasti mati. ayahnya bahkan menyebut bahasa arabnya (tapi aku rada-rada  lupa euy.... nanti ditulis takut salah)." Kemudian ayahnya bilang, " Makanya kita harus mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya malaikat maut supaya nanti kita bisa kumpul di surga. Jadi abang ngak boleh takut ya."
"Yang penting abang sholat lima waktu ya yah."
"Ngak cuma sholat nak. Harus nurut sama orang tua, rajin membaca Al-Qur'an. Sayang sama adik. Dan mau menolong orang yang lagi kesusahan."

"Biar kita masuk surga ya yah? Nanti kalau di surga gimana abang bisa kenalin ayah ama bunda? kata ayah kan semua orang yang masuk surga jadi muda lagi." (ayahnya memang pernah menjelaskan tentang surga dan neraka).
Akhirnya ayahnya menjelaskan lagi mengenai surga dan neraka. Mengapa orang yang masuk surga tidak ada yang orang tua dan anak-anak. (tapi ngak disini ngebahasnya ya...bisa ngak selesai-selesai ini tulisan. Nanti kita bahas di topik yang berbeda. udah jam 11 lebih nih. Takut Esha keburu bangun).

Itulah pengalamanku kemarin. Sayang kan kalau ngak di bagi di sini. Anak-anak itu polos loh, tapi pertanyaan yang mereka ajukan bisa sangat kompleks dan kita harus selalu siap menjawabnya. Fikiran mereka itu kadang sulit diduga. Terkadang kita tidak menyangka mereka bisa bertanya sejauh itu. So, sebagai orang tua kita harus selalu mempersiapkan diri untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan mereka dengan bahasa mereka. Sayang kan usia keemasannya kalau kita sia-siakan begitu saja sementara mereka bisa menangkap sangat banyak informasi dan pengetahuan.

Satu lagi, anak-anak dapat menjadi sahabat kita untuk mengingatkan kita akan banyak hal. Seperti curhatku hari ini, abang sudah mengingatkanku untuk selalu ingat akan kematian karena dia pasti akan datang dan kita tidak tahu kapan dia menjemput. So, persiapkan bekalnya dari sekarang.



http://www.dbcn-kerjadirumah.com/?id=kireikutekawaidesu

Kamis, 16 September 2010

Hidayah di Hari Lebaran

Pagi itu di atas meja komputer di kamar adikku di rumah ayah, sambil menggendong dan meninabobokan bayi kecilku, aku melihat sebuah majalah Annida. Majalah terbitan 8 tahun lalu, tapi sampul dan judul cerpennya masih membuatku terusik untuk membacanya. Apalagi rasanya sudah lama sekali aku tidak membaca cerpen-cerpen rohani. Sejak aku memulai karir di ibukota Jakarta, waktuku untuk membaca cerita-cerita rohani, pergi ke pengajian atau ikut halaqah dan diskusi islami semakin berkurang dan mulai terkikis dengan kesibukan kantor. Tidak langsung terasa sih, tapi porsinya mulai berkurang, hingga perlahan-lahan ada kegiatan-kegiatan yang tadinya masih bisa kuikuti bersama teman-teman akhwat akhirnya kulakukan di rumah sendiri. Kemudian, kebiasaan baik itu pun mulai terlupakan seiring dengan kesibukan dan karir yang mulai menanjak. Perasaan bersalah yang tadinya muncul, akhirnya hilang diterabas kesibukan dan karir yang kian cemerlang. Di dalam hati mulai membenarkan diri sendiri dengan berkata,"Kan kerja juga ibadah. Apalagi niatnya untuk dapat membiayai hidup sendiri dan membantu keluarga. Yang penting aku tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan agama. Masih jujur, tidak mencuri, tidak menjahati orang lain, tidak menjilat atasan, dll."
Semakin hari hati menjadi semakin kosong karena biasanya ada hafalan surat pendek yang harus diulang, ada target ngaji yang harus dikejar dalam satu hari, ada sholat sunah yang musti dilakukan. Tapi sekarang semuanya mulai terlupakan. Akhirnya yang dilakukan hanyalah menjalankan kewajiban yang lima waktu. Hafalan surat pendek tak lagi bertambah, mengaji mulai menjadi target mingguan bahkan bulanan, sholat sunah kalau lagi ada waktu dan tidak buru-buru aja. Hati ini semakin kosong rasanya. Hal ini berlanjut sampai bertahun-tahun lamanya.. Hingga hari itu tiba dan aku membaca satu cerpen bagus yang menyentil dan menjewerku sedemikian rupa. cerita tentang seorang gadis manis yang penuh dengan kesibukan organisasi islamnya, menjadi ketua pengajian, keputrian, dll. Namun ada kebaikan-kebaikan yang selama ini sudah dijalankan menjadi terabaikan. Dia hanya bisa mengingatkan orang lain namun ibadahnya menjadi kendur. Dia bagaikan lilin yang menerangi oranng lain tapi membakar dirinya sendiri. Sejak saat itu, aku bertekad dalam hati untuk menjadi orang yang lebih sabar menghadapi hidup, memulai dan melakukan semua tugas sebagai istri dan ibu untuk ketiga anakku hanya karena Allah. Ingin mulai kembali mengaji secara rutin dan berkesinambungan, kembali melakukan sholat malam dan menambah pengetahuan dan ilmuku tentang islam sehingga apapun yang kulakukan bernilai ibadah dan mendapat ridho-Nya karena sesuai dengaan tuntunan-Nya. Kulakukan semua ini karena aku tidak mau hidupku ini hanya menjadi sebuah kesia-siaan dan berkubang dengan kemudharatan. Aku takut jika nanti sudah waktuku menghadapnya, lidahku kelu tak bisa menyebut nama-Nya. Dan aku takut nanti di yaumil Akhir aku diberikan buku catatan hidupku di dunia dari sebelah kiri.
Untuk mewujudkan impian dan cita-citaku memperbaiki diri, aku mulai dari satu langkah nyata. Aku memutuskan untuk berhenti bekerja di kantorku dan meninggalkan jabatan Manager HRD yang selama ini aku pegang. Aku memutuskan untuk memfokuskan perhatian pada ketiga anak-anakku yang diamanahi oleh Allah. Sehingga aku bisa mendidik mereka dengan maksimal dan mengajarkan nilai-nilai islam dari sejak dini. Karena kelak kalau mereka menjadi hamba-hamba-Nya yang sholeh dan sholehah, aku dapat menghadap Ilahi dengan tersenyum. Aku yakin, dengan keluarnya aku dari pekerjaan kantor, sudah banyak pekerjaan rumah yang menungguku dan tak akan pernah usai. Sesungguhnya pekerjaan yang paling mulia untuk seorang wanita adalah menjadi ibu dan istri seutuhnya. Kalaupun aku harus bekerja dan membantu suamiku mencari nafkah, akan aku lakukan dari rumah saja agar aku tetap bisa maksimal memperhatikan perkembangan anak-anakku.
Tak terasa, indahnya cerpen yang kubaca dan serunya diskusi dengan adikku di Bandung, telah membuahkan hasil yang besar. Satu langkah awal yang insyaallah akan membawa langkahku lebih ringan untuk kembali mengisi hati dan hari-hariku dengan ridho dan hidayah-Nya sehingga aku berharap kelak bisa tersenyum pada saatnya aku menghadap kekasih sejatiku. Ya Allah, mudahkanlah langkahku mencari keridhoan-Mu. Kuatkan dan sabarkanlah aku dalam menghadapi godaan dunia sehingga hamba bisa mendapatkan hidayah-Mu untuk mencium dan memasuki surga-Mu. Mudah-mudahan kekosongan hati ini segera berganti menjadi keindahan dan keceriaan yang dapat membuat hamba lebih berarti bagi orang lain dan menjadi hamba-Mu yang taat ya Allah.


Parung, 16 September 2010

Ingin kerja dari rumah dan tetap dapat menambah pemasukan rumah tangga? Disini jawabannya!