Saling Berbagi Yuks......Masalah teratasi, hati menjadi lega

Sabtu, 16 Oktober 2010

Aku mencintaimu dengan hatiku dan segenap jiwaku

Kisah ini nyata, dialami seorang Direktur Fortis Asset Management yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau sangat sukses dalam memajukan industri Reksadana di Indonesia.

Dilihat dari usia beliau yg sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, bapak Suyatno (58), kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yg sakit dan juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih dari 32 tahun. Pasangan suami istri ini dikaruniai 4 orang anak. Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke 4, tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Ini terjadi selama 2 tahun.
Menginjak tahun ke 3, seluruh tubuhnya menjadi lemah, bahkan terasa tidak bertulang, lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari bapak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke atas tempat tidur.
Sebelum berangkat kerja, dia letakkan istrinya di depan televisi supaya istrinya tidak merasa kesepian.
Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum. Untunglah tempat usaha pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia selalu pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya, dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaiannya, dan selepas magrib dia menemani istrinya menonton televisi sambil menceritakan apa saja yang dia alami seharian.
Walaupun istrinya hanya bisa memandang namun tidak bisa menanggapi, pak Suyatno sudah cukup senang. Bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap hendak berangkat tidur.
Rutinitas ini dilakukan pak Suyatno kurang lebih selama 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak-anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yang masih kuliah.
Pada suatu hari, ke 4 anak Suyatno berkumpul di rumah orang tuanya sembari menjenguk ibu mereka, karena setelah anak-anak mereka menikah tinggal dengan keluarga masing-masing, pak Suyatno memtuskan untuk merawat sendiri ibu mereka karena yg dia inginkan hanya satu : melihat semua anaknya berhasil!
Saat mereka sekeluarga tengah berkumpul, anak yg sulung berkata dengan kalimat yang sangat hati-hati : "pak, kami ingin sekali merawat ibu. Semenjak kami kecil, melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikit pun keluhan keluar dari mulut bapak. Bahkan bapak tidak ijinkan kami merawat ibu".
Dengan air mata berlinang si sulung melanjutkan kata-katanya : " sudah yg ke empat kalinya kami mengijinkan agar bapak menikah lagi. Kami rasa ibu pun akan mengijinkannya. Kapan bapak bisa menikmati masa tua jika terus berkorban seperti ini? Kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian!".
Pak Suyatno pun menjawab keinginan anak-anaknya dengan jawaban yang sama sekali tidak pernah diduga oleh anak-anaknya.
"Anak-anakku, jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah... tapi ketahuilah, dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup! Dia telah melahirkan kalian..."
Sejenak kerongkongan pak Suyatno tercekat.
Kembali dia melanjutkan kata-katanya : "kalian yg selalu ku rindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yg tidak satu pun dapat menghargainya dengan apa pun! coba kalian tanya pada ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini? kalian menginginkan bapak bahagia? apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaannya sekarang? kalian menginginkan bapak yang masih diberi kesehatan oleh Allah, dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit?"
Sejenak meledaklah tangis anak-anak pak Suyatno. Mereka pun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata ibu Suyatno. Dengan pilu ibu Suyatno menatap mata suaminya yg sangat dicintainya itu.
Ketika akhirnya pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun televisi swasta menjadi narasumber, pembawa acara mengajukan pertanyaan  kepada pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa.
Di saat itulah meledak tangis beliau, begitu pula para tamu yang hadir di studio yang kebanyakan kaum perempuan, pun tidak sanggup menahan haru.
Pak Suyatno pun melontarkan kata-kata yang paling bijak :
"Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (waktu, tenaga, pikiran dan perhatian) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat dia pun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan batinnnya, bukan dengan mata... Dan dia juga memberi saya 4 orang anak yang lucu-lucu... sekararang dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama... dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya? Sehat pun belum tentu saya mencari penggantinya, apalagi kala dia sakit..."

Alangkah indahnya jika semua pasangan suami istri bisa mencintai dengan tulus dan ikhlas, dikala suka maupun duka. Selalu berada disamping pasangan kita untuk memberikan dia kekuatan.