Saling Berbagi Yuks......Masalah teratasi, hati menjadi lega

Minggu, 06 November 2011

Terjawab Sudah Dilema itu

Berawal dari dilema yang kualami sebagai wanita pekerja yang ingin membantu suami mencari nafkah dan memberikan yang terbaik buat pendidikan dan kehidupan anak-anakku. Namun, sebagai seorang lulusan psikologi aku juga tahu bahwa anak-anak tidak hanya membutuhkan sisi finansial saja. Tapi hati kecilku juga tidak bisa berbohong kalau kehidupan keluargaku pun harus ditopang dari segi ekonomi kalau kami ingin bisa membantu orang tua, memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak dan bisa memenuhi kebutuhan hidup di kota metropolitan yang tidak sedikit.

Yang selama 9 tahun berkarir aku lakukan untuk bisa menyeimbangkan semua kebutuhan anak-anak dan keluarga adalah memberikan quality time yang maksimal untuk kedua buah hatiku (saat itu baru dua loh, sekarang udah jadi tiga). Aku tetap mencoba menjadi ibu dan istri yang baik. Ketika malam membacakan cerita kepada kedua buah hatiku (sering cerita tentang kami sendiri selain dongeng-dongen yang sudah terkenal), mengajak mereka jalan di hari libur (dulu mah masih masuk kerja hari sabtu), melakukan kegiatan bersama saat aku libur, pagi kalau anak-anak udah bangun mengajak mereka mengantarkan aku ke parung (he..he..he.. biar bisa ngobrol di angkot dan kasih tahu mereka ada tumbuhan apa aja di sepanjang jalan atau ceirta sesuatu ke mereka), memberikan asi ke mereka (di kantor tuh mompa asi pas memang saatnya, some times curi-curi waktu kerja. untung atasanku pengertian), dan hal-hal lain yang bisa aku maksimalkan.

2 tahun yang lalu, awal berkenalan dengan oriflame bersama d'BCN nya. Dikenalkan oleh bundo niza (tetangga, sahabat dan ibu sahabatnya anakku, eh sekaligus merangkap bu rt juga). Awalnya niatnya cuma mau bantu beliau aja, seorang ibu rumah tangga yang mau maju dan punya penghasilan sendiri. Secara kan dulu waktu kuliah juga udah kenal beberapa m*l*m, namun ngak pernah berhasil mengembangkan jaringannya. Paling pintar jualannya aja (kan turunan padang, jadi ada bakat dagang deh). Begitu masuk, dapat web replika (dibaca dan pelajari) dan staterkit (baca dan pelajari juga). Langsung semangat 45 lihat challange yang diberikan. Pengen banget kejar ke Paris (ingin bisa keluar negeri gratis). Secara kerja di perusahaan Jepang sudah sekian lama mengabdi sebagai HRD yang baik belum pernah dikirim ke Jepang atau negara lainnya (cuma ngurusin orang lain mulu berangkat ke luar negeri)...he..he..he..ngiridotcom judulnya. Sebenarnya ngak baik ya ngiri ama orang lain, tapi emang pengen jalan-jalan keluar negeri gratisan boo....

Mulailah menjalani bisnis dengan modal awal Rp. 39.900 tersebut. Mulai sebar katalog, dapat orderan banyak (senang banget dong). Berarti ilmu dagangnya masih kepake...he..he..he..Terus, mulai rekrut downline dan naik level 3% di bulan pertama. Senangnya, bisa jalani bisnisnya sambil kerja. Tapi belum serius banget soalnya bonusnya cuma sekitar 50 ribuan, jauh dari gaji sebagai manager hrd ....he..he..he..
Lanjut ke bulan-bulan berikutnya...kadang naik level, kadang mentok di level itu dan belum bisa fokus. Eh, ngak lama jalani bisnisnya aku tahu kalau aku hamil anak ketiga (senang banget, tapi sekaligus bingung gimana nanti ninggalin anak 3 di rumah). Belum lagi politik kantor yang saat itu ngak kondusif. Banyak trik2 yang dilakukan untuk mencapai posisi tertentu karena memang sedang restrukturisasi. Nita juga termasuk salah satu yang jadi korban politik. Alhamdulillah, sekarang baru bisa lihat skenario dari Allah dengan semua cobaan pada saat itu. Bersyukur dan berterimakasih kepada orang-orang yang saat itu senang berpolitik yang membuat orang lain untuk diresignkan atau dipaksa resign atau dibuatkan kondisi untuk resign. Karena berkat mereka lah sekarang nita bisa bersama anak-anak tapi punya pendapatan jutaan dan bisa berarti untuk banyak orang. Loh, kok malah curhat...he..he..he..

Lanjut lagi ya ceritanya. Sebenarnya nita senang dengan persahabatan di kantor lamaku. Kebanyakan orangnya baik-baik dan sangat bersahabat. Hanya segelintir orang yang rakus dengan kekuasaaan yang membuat suasana kantor jadi tidak kondusif. Di sana tuh sebenarnya filosofi nya sangat bagus, menempa nita menjadi orang yang disiplin, cekatan, bekerja keras dan smart dan peduli dengan sesama. Banyak nilai-nilai positif yang sampai sekarang masih nita junjung tinggi. Kangen ama teman-teman yang sangat baik yang ada di sana yang selalu berikan motivasi dan support buat nita.

Punya tekad untuk bisa resign setelah anak ketiga lahir karena ngak mungkin juga dong terus kerja sebagai karyawati dengan punya anak 3. akan banyak kendala dan tantangan yang dihadapi. Akan sangat sulit bagi waktu untuk keluarga dan pekerjaan secara adil. Akan sangat sulit juga untuk bisa maju di kedua peran ini. Akhirnya bertekad untuk lillahi taala. Begitu mendekati melahirkan anak ketiga, sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Membulatkan tekad untuk resign dan mengajarkan semua kewajiban kepada teman-teman di HRD. Alhamdulillah, anak ketiga lahir dengan selamat. Menjalani masa cuti melahirkan 3 bulan sambil terus masih dilema antara resign atau tidak. Suami hanya berkata, "bunda, rezeki di bumi Allah ini sangat luas. Bunda punya kemampuan, jadi yakinlah. Dengan tidak menjadi manager HRD dan fokus ke anak-anak, rezeki akan tetap mengalir." Terus berdialog dengan Allah, minta saran-Nya. Akhirnya sebulan sebelum masa cuti habis, memberanikan diri untuk mengajukan surat resign ke atasan. Alhamdulillah, proses resign berjalan lancar.

waktu resign itu posisi di Oriflame baru mendapatkan penghasilan sekitar 1 jutaan. Ngak papa, masih ada untuk uang jajan anak-anak. Alhamdulillahnya juga, dipinang ama salah satu sahabat untuk membantu perusahaan konsultannya dia sebagai operational manager. Mengatur segala hal yang berkaitan dengan Head Hunter. Ngak perlu tiap hari ke kantor. Maksimal dalam seminggu 3 kali ke kantornya. Dapat gaji dan uang bonus kalau proyek gol. Alhamdulillah, oriflame mulai menanjak naik dan di konsultan juga dapat proyek-proyek yang alhamdulillah kalau dijumlahkan sih pendapatanku jauh di atas gaji sebagai manager HRD. Bersyukur sekali karena Allah memang sangat baik. Skenario-Nya jauh diatas skenario manusia. Bisa menemani anak-anak di rumah, mengantarkan mereka sekolah, bisa kembali ikut pengajian setelah 9 tahun sangat sulit mengatur waktu untuk ikut pengajian bersama, bisa bersosialisasi dengan tetangga, bisa mengajar ilmu psikologi ke guru-guru tk, dan banyak kegiatan bermanfaat lainnya. Selain itu, bisa punya banyak teman dari sabang sampai merauke. Teman dari Oriflame dan juga teman karena menjadi konsultan SDM. Kembali meretas hubungan silaturrahmi dengan teman-teman lama. Senang rasanya menjalani kehidupan baruku. Mendapatkan pemuasan kebutuhan batin, bisa aktualisasi diri, selallu ada di samping anak-anak dan bahkan waktu ayah harus diopname dan operasi by pass aku bisa full ada disamping beliau bersama ketiga buah hatiku. Subhanallah, nikmat yang sangat tidak tergantikan dengan uang puluhan juta sekalipun.

Sekarang, setelah satu tahun resign dari kantor bisnis oriflameku alhamdulillah semakin berkembang. Dari bisnis ini, aku sudah ada di posisi Senior Manager dengan bonus bulan lalu di angka 5,7 juta. Senang sekali rasanya. Bukan semata-mata karena uangnya. Tapi senang karena mempunyai persahabatan yang hakiki dengan banyak sahabat-sahabat baru dari sabang sampai merauke. Senang bisa berbagi ilmu dengan teman-teman tersebut. Dan Alhamdulillah, sebagai konsultan pun nita masih sangat bisa menggunakan ilmu HRD dan psikologi nita. Sekarang nita masih mengejar 3 kali qualifikasi untuk bisa mencapai level Director di Oriflame dan dapat cash award 7 juta. Masih berjuang membawa teman-teman ke level Senior Manager dan ke jenjang-jenjang yang lebih tinggi lagi. Masih berpegangan tangan bersama mereka untuk mengubah dan meraih impian kami. Untuk bisa selalu ada di samping anak-anak kami tapi tetap bisa punya penghasilan.

O ya, senangnya juga karena anakku yang ketiga (Ayesha) ada selalu dalam pengawasanku utnuk pertumbuhan dan perkemnbangannya. Abang dan Uni pun semakin menunjukkan kemajuannya. Semakin bahagia karena bundanya sekarang selalu ada di rumah untuk mereka. Bundalah yang sekarang menyiapkan sarapan pagi mereka. Bundalah yang mempersiapkan baju sekolahnya, mengantarkan mereka ke sekolah, menemani mereka les dan mengajak mereka bermain. Setiap sore sekarang kami berjalan-jalan sore keliling komplek sambil nyuapin ayesha makan. Kadang uni ama abang juga ikut disuapin (manja ya...) sambil main sepeda. Bahkan kemarin uni bisa meraih juara 3 fashion show di Rumah Sakit Sari Asih Ciputat. Dia bisa tampil maksimal dan percaya diri karena bunda dan ayahnya ada di sampingnya saat dia berlomba.

Semua kebersamaan ini, kebahagiaan ini takkkan pernah bisa terbayar dengan uang puluhan juta sekalipun. Alhamdulillah, semua ini tak lepas dari bimbingan-Nya. Sekarang juga bisa kapan aja mau ke Bandung untuk mengunjungi ayah dan ibuku. Paling tinggal nyesuaian jadwal dengan kegiatan anak-anak di sekolah dan tempat lesnya. Oya, lucunya lagi kalau sekarang nita bawa katalog oriflame untuk diperlihatkan ke teman, saudara atau tetangga, yang paling semangat nawari itu adalah uni Aura. Dia bahkan sekarang sering bilang ke orang-orang ingin kerja di Oriflame kalau nanti sudah besar. Ingin jadi seperti bunda. Senang dan terharu mendengarnya.

Buat teman-teman dan seluruh ibu, bunda, mama dan calon ibu yang ada di mana aja yang ingin seperti nita bisa langsung kontak ke nita. Yuks, kita raih impian itu bersama. Yakin bahwa kita bisa berikan yang terbaik untuk generasi bangsa ini ke depannya dimuali dari anak-anak kita dan lingkungan sekitar kita.

Selasa, 04 Oktober 2011

Akhirnya kutemukan d'BCN

Halo Teman-Teman....Masih Semangat Kan ya....
Hihihi...Aku mau bagi2 cerita nih..kali ini tentang perjalanan aku menemukan dBCN.
Aku mulai ya...

Sebagian temen2 pasti udah tau deh, klo anak pertamaku kena leukimia. Akhir 2009 tepatnya, mulai kemoterapi pertama. Terus terang itu masa2 sulit buat kami, dalam hal emosi, waktu, tenaga, dan pastinya biaya. Apalagi, saat anakku terapi pertama, kami baru saja selesai membangun gubuk kami. Otomatis, semua uang tabungan sudah habis, Dan sebelumnya itu...aku kecelakaan yang menyebabkan org terluka di bagian pangkal leher, sehingga hrs ikut menanggung biaya pengobatannya, 18jt, totalnya untuk membereskan perkaranya. Temen2 kebayang kan, gimana bingungnya aku saat itu mikirin biaya. ada yg bilang, 2009 itu tahun sialnya aku. Ah, tp aku sama suami mah gak pernah mikir gitu. Kesulitan, ya...dihadapi aja, ntar juga ketemu jalan keluarnya. Kami yakin banget hal itu. Waktu itu, pokoknya gak mau deh dikasihani, klo dikasih duit....ya terima aja, rejekilah, hahaha. 
Setelah anakku boleh pulang dan menjalani rawat jalan, aku mulai berpikir bahwa aku harus mencari uang tambahan. Saat itu aku bingung, mau bisnis apa. Kami gak punya cukup banyak uang sisa, hanya untuk cadangan anakku rawat jalan.
Pertama2, yg aku liat adlh bidang yg deket sama profesi aku sbg penyuluh pertanian. Setelah mempelajarinya lebih jauh, aku gak bisa bergerak di bidng ini. Butuh waktu banyak dan tenaga...itu, aku gak punya, karena hrs memperhatikan anakku dgn intensif kan. Juga...krn di bidang pertanian, harga jual produk, bukan di tangan petani. Seringkali aku liat, petani bawang merah kaya mendadak dan miskin mendadak. Klo panen sekarang, mobil panther bisa kebeli, panen besok, rumah bisa aja tergadai. Aku gak bisa ambil resiko itu sekarang, krn anakku msh butuh biaya untuk rawat jalannya

Sampai akhirnya bulan Maret 2011 aku mulai "pegang" internet, setelah sekian lama gak pernah menyentuhnya sejak aku resign dr kantorku di JKT dan pindah ke JATIM. Mulai buat akun yahoo lagi. belajar kenal FB....Akhirnya kontek lg sama temen2 lama dan Nita. Diajak Nita buat gabung dBCN. Di awal. sempet ragu, apa bisa ngejalanin bisnis MLM online. Semua MLM yang aku ikutin, mati, kalo gak mau dibilang jln ditempat. April 2011, gabung dengan dBCN, dengan harapan, minimal dapet hadiah WP. Akhirnya mulai kenal siapa itu Dini Shanti. Buka2 webnya. Ketemu tuh nama Anne Ahira, Internet Marketer dunia, yg juga jd gurunya mbak Dini Shanti. Dasar aku tuh, orgnya pengen tau dan gk sabar. Aku buka2 webnya Anne Ahira juga, dan tertarik buat ikutan sekolah internet marketingnya. Hehehe...berharap bisa belajar langsung dari gurunya Dini Shanti, siapa tau jd cepet sukses, itu harapannya. Suamiku mendukung bgt, wkt aku bilang, mau ikut sekolah internet marketing. Dia suruh aku ikut keanggotaan setahun penuh (hihihi...ada diskonnya dua bln, tetep ya...itungan2annya gk ketinggalan). Waktu itu suamiku bilang, mumpung kita masih py modal usaha, ya...dicoba aja. Aku pikir, bener juga.Untuk sementara BCNnya aku cuekin dulu deh.  Wuih...sekolah internet marketingnya Anne, Asian Brain, itu gak murah loh, keanggotaan setahun, aku bayar 1. 750.000 CASH. Aku udah berjanji untuk berusaha jd internet marketer kyk Anne. Tp....hiks...hiks...ternyata gak mudah loh. Untuk risetnya aja, kt disarankan py program market samurai, yg harganya 2jtan. Ada sih gratisannya...tp cuma seminggu. Belum kelengkapan program yang lain. Dan...maaf, di situ, aku merasa belajar sendirian, gk ada temen2 yang intens ngedukung aku. Yaah...mungkin juga salah akunya yang gak bs manfaatin forum yang udah disediakan. Emang byk ilmunya, tp...waktuku untk belajar itu semua, gak cukup. Aku gak bs konsentrasi lama2, krn aku hrs mengurus anakku yang pertama dan adiknya. Akhirnya dengan berat hati, setelah dua bulan berusaha berkutat di situ dan gak berhasil, aku menyerah....dan minta maaf sama suamiku pastinya (maaf ya Pak, aku udah buang2 uang aja).  Hiks...hiks...maafkan aku ya...BU GURU, bukan gurunya yg gak bisa ngajar, tp muridnya yang dedel otaknya.

Akhirnya, aku kembali bingung. Setelah nyerah sama Asian Brain, aku cuma punya dBCN yang belum aku seriusin. Udah punya 3 DL, hsl spillan, tp jg gak aktif semua. Mulai dari mana, aku juga gak tau.Ngajakin temen2 buat ikutan, gak ada yang mau, cuma janji2 aja, tp gak ada realisasi. Udah nyoba ikut bikin iklan gratisan, gak ada prospek yg masuk. Ikutan coop iklan di Klik Saya 100rban buat 2hran, ada prospek, gak ada yg closing, nyoba yg 50rban, sama aja. Puusiiing deh aku waktu itu. Temen2 apa ngerasain yg aku rasain juga? Mudah2an gak ya..... Nita waktu itu terus nyemangatin aku (thx ya Nit, seandainya waktu itu Nita jg nyerah sama aku, mungkin aku gak bs kyk sekarang ya...) Terus wkt itu, aku juga baca notenya mbak Evi...kalau udah ngajak 2000org, terus gak ada satupun yang mau, baru boleh nyerah. Hah? 2000?? Rule of the gamenya gitu toh? kalo 2000 prospek sih, emang belum ada ya...Ya...diikuti aja deh. Aku pikir, minimal usahalah, aku dlm posisi gak ada pilihan lain. Mau bisnis makanan? Waduh, modalnya lebih gede lagi dan resikonya juga. Gaklah, dBCN aja deh, dicoba sampe mentok.

Bulan Juli 2011, aku ditawarin sama Nita buat ikutan coop iklan FB, satu bulan cuma 300rb. Aku bilang cuma ya...soalnya aku udah nyobain yang lebih mahal dan gagal. Ya...udahlah, dicoba aja, barangkali rejekiku di situ. Ternyata Allah itu baik banget sama aku ya...ternyata usahaku mulai berhasil. Nita dan Bundo terus aku repotin dengan pertanyaan2 aku, tp mereka selalu ada dan support aku. Satu persatu prospek closing. aku mulai enjoy dengan dBCN, karena aku bisa ngerjainnya sambil  ngantor, atau ngangetin masakan, atau nemenin anak2 belajar, atau ngawasin anakku minum obat atau...mmmm, ini yang paling aku suka sama bisnis ini, bisa berhubungan dgn prospek dan downline sambil dasteran, hahaha...... Di bisnis lain, mana bisa kyk gini.
Dari perjalananku sampe sekarang, aku bisa ambil kesimpulan klo bisnis dBCN ini cocok bgt buat aku yg gak py waktu byk buat keluar rumah, gk bisa jualan,gak bisa presentasi, tp tetep pengen punya bisnis. Perjalanan masih panjang buat meraih mimpi, tp Insya Allah kita semua bisa mencapainya asal kita mau ACTION dan FOCUS.

Go SM, Go Director, Go Diamond!
Meiti Ismayati
Consultant 9%.

Kamis, 08 September 2011

Istri Solekha

Cinta itu butuh kesabaran…
Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita???
Hari itu.. aku dengannya berkomitmen untuk menjaga cinta kita…
Aku menjadi perempuan yg paling bahagia…
Pernikahan kami sederhana namun meriah…
Ia menjadi pria yang sangat romantis pada waktu itu.
Aku bersyukur menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan & mapan pula.

Ketika kami berpacaran dia sudah sukses dalam karirnya.
Kami akan berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika kami berpacaran dulu…

Dan setelah menikah, aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci…
Aku sangat bahagia dengannya, dan dianya juga sangat memanjakan aku… sangat terlihat dari rasa cinta dan rasa sayangnya pada ku.
Banyak orang yang bilang kami adalah pasangan yang serasi. Sangat terlihatsekali bagaimana suamiku memanjakanku. Dan aku bahagia menikah dengannya.

***


Lima tahun berlalu sudah kami menjadi suami istri, sangat tak terasa waktu begitu cepat berjalan walaupun kami hanya hidup berdua saja karena sampai saatini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil (bayi) di tengah keharmonisan rumah tangga kami.
Karena dia anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya, jadi aku harus berusaha untuk mendapatkan penerus generasi baginya.

Alhamdulillah saat itu suamiku mendukungku…
Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan-NYA.
Tapi keluarganya mulai resah. Dari awal kami menikah, ibu & adiknya tidak menyukaiku. Aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka, namun aku selalu berusaha menutupi hal itu dari suamiku…
Didepan suami ku mereka berlaku sangat baik padaku, tapi dibelakang suami ku, aku dihina-hina oleh mereka…


Pernah suatu ketika satu tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan, mobilnya hancur. Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yanghampir membuat ku menjadi seorang janda itu.
Ia dirawat dirumah sakit pada saat dia belum sadarkan diri setelah kecelakaan. Aku selalu menemaninya siang & malam sambil kubacakan ayat-ayat suci Al –Qur’an. Aku sibuk bolak-balik dari rumah sakit dan dari tempat aku melakukanaktivitas sosial ku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karena kecelakaan.

Namun saat ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami, akumelihat di dalam kamarnya ada ibu, adik-adiknya dan teman-teman suamiku, dandisaat itu juga.. aku melihat ada seorang wanita yang sangat akrab mengobroldengan ibu mertuaku. Mereka tertawa menghibur suamiku.

Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat suamiku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di hadapannya.
Kubuka pintu yang tertutup rapat itu sambil mengatakan, “Assalammu’alaikum” danmereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semuamelihatku. Suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup.

Tangannya melambai, mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya erat. Setelahaku menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata “Assalammu’alaikum”, ia punmenjawab salam ku dengan suaranya yg lirih namun penuh dengan cinta. Aku punsenyum melihat wajahnya.

Lalu.. Ibu nya berbicara denganku …
“Fis, kenalkan ini Desi teman Fikri”.
Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah mencintainya,perempuan itu bernama Desi dan dia sangat akrab dengan keluarga suamiku. Hinggaakhirnya aku bertemu dengan orangnya juga. Aku pun langsung berjabat tangandengannya, tak banyak aku bicara di dalam ruangan tersebut,aku tak mengerti apayg mereka bicarakan.

Aku sibuk membersihkan & mengobati luka-luka di kepala suamiku, barusebentar aku membersihkan mukanya, tiba-tiba adik ipar ku yang bernama Dianmengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku pun mengijinkannya.Kemudian aku pun menemaninya.
Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata, “lebih baik kau pulang saja, adakami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja. ”

Anehnya, aku tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abangharus banyak beristirahat dan karena psikologisnya masih labil. Aku berdebatdengannya mempertanyakan mengapa aku tidak diizinkan berpamitan dengan suamiku.Tapi tiba-tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia juga mengatakan halyang sama.

Nantinya dia akan memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang takberpamitan padanya, toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunyasalah ataupun tidak, suamiku tetap saja membenarkannya. Akhirnya aku pun pergimeninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.
Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembalidari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dalam kesendirianku. Menangismengapa mereka sangat membenciku.

***

Hari itu.. aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takutkehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain.
Pagi itu, pada saat aku membersihkan pekarangan rumah kami, suamiku memanggilku ke taman belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk diayunan favorit kami sambil melihat ikan-ikan yang bertaburan di kolam airmancur itu.

Aku bertanya, “Ada apa kamu memanggilku?”
Ia berkata, “Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang”
Aku menjawab, “Ia sayang.. aku tahu, aku sudah mengemasi barang-barang kamu ditravel bag dan kamu sudah memeegang tiket bukan?”
“Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga sudahlama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan aku akanpulang dengan mama ku”, jawabnya tegas.

“Mengapa baru sekarang bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu disana?”,tanya ku balik kepadanya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewakarena ia baru memberitahukan rencana kepulanggannya itu, padahal aku telahbersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.

“Mama minta aku yang menemaninya saat pulang nanti”, jawabnya tegas.
“Sekarang aku ingin seharian dengan kamu karena nanti kita 3 minggu tidakbertemu, ya kan?”, lanjut nya lagi sambil memelukku dan mencium keningku.Hatiku sedih dengan keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan pada nya.

Bahagianya aku dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang &cintanya walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.
Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku, tapi karenakeluarganya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu padaku karena suamikusangat sayang padaku.

Kemudian aku memutuskan agar ia saja yg pergi dan kami juga harus berhematdalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami.
Karena ini acara sakral bagi keluarganya, jadi seluruh keluarganya haruskomplit. Walaupun begitu, aku pun tetap tak akan diperdulikan oleh keluarganyaharus datang ataupun tidak. Tidak hadir justru membuat mereka sangat senang danaku pun tak mau membuat riuh keluarga ini.

Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluan yang akandibawanya ke Sabang, ia menatapku dan menghapus airmata yang jatuh dipipiku,lalu aku peluk erat dirinya. Hati ini bergumam tak merelakan dia pergi seakanterjadi sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisamenangis karena akan ditinggal pergi olehnya.

Aku tidak pernah ditinggal pergi selama ini, karena kami selalu bersama-samakemana pun ia pergi.
Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian dan tidak memiliki teman, karenabiasanya hanya pembantu sajalah teman mengobrolku.
Hati ini sedih akan di tinggal pergi olehnya.
Sampai keesokan harinya, aku terus menangis.. menangisi kepergiannya. Aku taktahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak boleh berburuksangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti akan selalu menelponku.

***


Berjauhan dengan suamiku, aku merasa sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri.Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadinya aku takterlalu kesepian ditinggal pergi ke Sabang.
Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami memburuk dan aku pun jatuhsakit. Rahimku terasa sakit sekali seperti di lilit oleh tali. Tak tahan akumenahan rasa sakit dirahimku ini, sampai-sampai aku mengalami pendarahan. Akudilarikan ke rumah sakit oleh adik laki-lakiku yang kebetulan menemanikudisana. Dokter memvonis aku terkena kanker mulut rahim stadium 3.

Aku menangis.. apa yang bisa aku banggakan lagi..
Mertuaku akan semakin menghinaku, suamiku yang malang yang selalu berharap akanpunya keturunan dari rahimku.. namun aku tak bisa memberikannya keturunan. Dan kemudianaku hanya bisa memeluk adikku.

Aku kangen pada suamiku, aku selalu menunggu ia pulang dan bertanya-tanya,”kapankah ia segera pulang?” aku tak tahu..
Sementara suamiku disana, aku tidak tahu mengapa ia selalu marah-marah jikamenelponku. Bagaimana aku akan menceritakan kondisiku jika ia selalu marah-marah terhadapku..

Lebih baik aku tutupi dulu tetang hal ini dan aku juga tak mau membuatnyakhawatir selama ia berada di Sabang.
Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan ceritapadanya. Setiap hari aku menanti suamiku pulang, hari demi hari aku hitung…

Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat foto-fotokami, ponselku berbunyi menandakan ada sms yang masuk.
Kubuka di inbox ponselku, ternyata dari suamiku yang sms.
Ia menulis, “aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulangnya satu hari lagi,aku akan kabarin lagi”.
Hanya itu saja yang diinfokannya. Aku ingin marah, tapi aku pendam saja egoyang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba, aku menantinya di rumah.

Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfumkesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan nantinya aku juga akanmenyelesaikan masalah komunikasi kami yg buruk akhir-akhir ini.

Bel pun berbunyi, kubukakan pintu untuknya dan ia pun mengucap salam. Sebelummasuk, aku pegang tangannya kedepan teras namun ia tetap berdiri, akumembungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan kucuci kedua kakinya, aku takmau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami.

Setelah itu akupun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksinya..
Masya Allah.. ia tidak mencium keningku, ia hanya diam dan langsung naikkeruangan atas, kemudian mandi dan tidur tanpa bertanya kabarku..
Aku hanya berpikir, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaan nyasampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan aku padatempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.

Biasa nya kami selalu berjama’ah, tapi karena melihat nya tidur sangat pulas,aku tak tega membangunkannya. Aku hanya mengeelus wajahnya dan aku ciumkeningnya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka’at.

***


Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku melihat dirinya daribalkon kamar kami yang bersiap-siap untuk pergi. Lalu aku memanggilnya tapi iatak mendengar. Kemudian aku ambil jilbabku dan aku berlari dari atas ke bawahtanpa memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku untuk mengejarnya tapi iabegitu cepat pergi.
Aku merasa ada yang aneh dengan suamiku. Ada apa dengan suamiku? Mengapa iabersikap tidak biasa terhadapku?

Aku tidak bisa diam begitu saja, firasatku mengatakan ada sesuatu. Saat itujuga aku langsung menelpon kerumah mertuakudan kebetulan Dian yang mengangkattelponnya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang sedang terjadi dengansuamiku. Dengan enteng ia menjawab, “Loe pikir aja sendiri!!!”. Telpon punlangsung terputus.

Ada apa ini? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubahsetelah ia kembali dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara padaku,apalagi memanjakan aku.
Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas tanggungjawabnya sebagai seorang suami. Kami hanya berbicara seperlunya saja, akuselalu diintrogasinya. Selalu bertanya aku dari mana dan mengapa pulangterlambat dan ia bertanya dengan nada yg keras. Suamiku telah berubah.

Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah dituduhnya berzina dengan mantanpacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku serendah itu,tapi aku selalu ingat.. sebagaimana pun salahnya seorang suami, status suamitetap di atas para istri, itu pedoman yang aku pegang.
Aku hanya berdo’a semoga suamiku sadar akan prilakunya.

***


Dua tahun berlalu, suamiku tak kunjung berubah juga. Aku menangis setiap malam,lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru saja berkenalan.
Kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna. Walaupun kondisinya tetapseperti itu, aku tetap merawatnya & menyiakan segala yang ia perlukan.Penyakitkupun masih aku simpan dengan baik dan sekalipun ia tak pernah bertanyaperihal obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna, harapan menjadiibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan berakhir.

Bersyukurlah.. aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai seorangguru ngaji, jadi aku tak perlu meminta uang padanya hanya untuk pengobatankankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.
Sungguh.. suami yang dulu aku puja dan aku banggakan, sekarang telah menjadiorang asing bagiku, setiap aku bertanya ia selalu menyuruhku untuk berpikirsendiri. Tiba-tiba saja malam itu setelah makan malam usai, suamikumemanggilku.

“Ya, ada apa Yah!” sahutku dengan memanggil nama kesayangannya “Ayah”.
“Lusa kita siap-siap ke Sabang ya.” Jawabnya tegas.
“Ada apa? Mengapa?”, sahutku penuh dengan keheranan.
Astaghfirullah.. suami ku yang dulu lembut tiba-tiba saja menjadi kasar, diamembentakku. Sehingga tak ada lagi kelanjutan diskusi antara kami.
Dia mengatakan “Kau ikut saja jangan banyak tanya!!”

Lalu aku pun bersegera mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke Sabangsambil menangis, sedih karena suamiku kini tak ku kenal lagi.
Dua tahun pacaran, lima tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia menjadiorang asing buatku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh cinta yang dihiasifoto pernikahan kami, sekarang menjadi dingin.. sangat dingin dari batu es. Akumenangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berontak berteriak, tapi akutak bisa.

Suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong dengan nada tinggi, sukamembanting barang-barang. Dia bilang perbuatan itu menunjukkan sikapketidakhormatan kepadanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya bicara dan sabarmengobati penyakitku ini, dalam kesendirianku..

***


Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman aku tidaktidur karena terus berpikir. Keluarga besarnya juga telah berkumpul disana,termasuk ibu & adik-adiknya. Aku tidak tahu ada acara apa ini..
Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam kamar tuaitu, ia pun langsung keluar bergabung dengan keluarga besarnya.

Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dalam lemari tuayg berada di dekat pintu kamar, lemari tua yang telah ada sebelum suamiku lahirtiba-tiba Tante Lia, tante yang sangat baik padaku memanggil ku untuk bersegeraberkumpul diruang tengah, aku pun menuju ke ruang keluarga yang berada ditengahrumah besar itu, yang tampak seperti rumah zaman peninggalan belanda.

Kemudian aku duduk disamping suamiku, dan suamiku menunduk penuh dengankebisuan, aku tak berani bertanya padanya.
Tiba-tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak atassemuanya, membuka pembicaraan.

“Baiklah, karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau Fisha”.Neneknya berbicara sangat tegas, dengan sorot mata yang tajam.
“Ada apa ya Nek?” sahutku dengan penuh tanya..
Nenek pun menjawab, “Kau telah bergabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun,sampai saat ini kami tak melihat tanda-tanda kehamilan yang sempurna sebabselama ini kau selalu keguguran!!”.
Aku menangis.. untuk inikah aku diundang kemari? Untuk dihina ataukahdipisahkan dengan suamiku?

“Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu.. sebelum kau menikahdengannya. Tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur,dan akhirnyamenikahlah ia dengan kau.” Neneknya berbicara sangat lantang, mungkin logatorang Sabang seperti itu semua.
Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.
“Dan aku dengar dari ibu mertuamu kau pun sudah berkenalan dengannya”, neneknyamasih melanjutkan pembicaraan itu.
Sedangkan suamiku hanya terdiam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin akupeluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya keberanian itu.



Neneknya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari ucapannyadengan mimik wajah yang sangat menantang kemudian berkata, “kau maunya gimana?kau dimadu atau diceraikan?”
MasyaAllah.. kuatkan hati ini.. aku ingin jatuh pingsan. Hati ini seakan remukmendengarnya, hancur hatiku. Mengapa keluarganya bersikap seperti initerhadapku..

Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulaukayu, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.
“Fish, jawab!.” Dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab.
Aku langsung memegang tangan suamiku. Dengan tangan yang dingin dan gemetar akumenjawab dengan tegas.
“Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapatberdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa depan keluargaini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami.”

Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cintaku dibagi. Dan pada saat itujuga suamiku memandangku dengan tetesan air mata, tapi air mataku tak sedikitpun menetes di hadapan mereka.
Aku lalu bertanya kepada suamiku, “Ayah siapakah yang akan menjadi sahabatkudirumah kita nanti, yah?”
Suamiku menjawab, “Dia Desi!”
Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara, “Kapan pernikahannyaberlangsung? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan ini Nek?.”

Ayah mertuaku menjawab, “Pernikahannya 2 minggu lagi.”
“Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruhnyamengurus KK kami ke kelurahan besok”, setelah berbicara seperti itu aku permisiuntuk pamit ke kamar.

Tak tahan lagi.. air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku bukapintu kamar dan aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak, tapi akusendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah dibagi. Sakit.Diiringi akutnya penyakitku..
Apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakanganini?

Aku berjalan menuju ke meja rias, kubuka jilbabku, aku bercermin sambilbertanya-tanya, “sudah tidak cantikkah aku ini?”
Ku ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari rontok. Kulihatwajahku, ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi, rambutku sudah hampirhabis.. kepalaku sudah botak dibagian tengahnya.

Tiba-tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suamiku yang datang, ia berdiridibelakangku. Tak kuhapus air mata ini, aku bersegera memandangnya dari cerminmeja rias itu.
Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan, “terima kasih ayah, kamu memberisahabat kepada ku. Jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti!Iya kan?.”

Suamiku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia tersenyum danbertanya kenapa rambutku rontok, dia hanya mengatakan jangan salah memakaishampo.
Dalam hatiku bertanya, “mengapa ia sangat cuek?” dan ia sudah tak memanjakankulagi. Lalu dia berkata, “sudah malam, kita istirahat yuk!”
“Aku sholat isya dulu baru aku tidur”, jawabku tenang.

Dalam sholat dan dalam tidur aku menangis. Ku hitung mundur waktu, kapan akuakan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan suamiku.
Aku tak tahu kalau Desi orang Sabang juga. Sudahlah, ini mungkin takdirku. Akuingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakan aku atas rasa sayangdan cintanya itu.

***


Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di laptopku.
Di laptop aku menulis saat-saat terakhirku melihat suamiku, aku marah padasuamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku yang sedangtidur pulas, apa salahku? sampai ia berlaku sekejam itu kepadaku. Akusave di mydocument yang bertitle “Aku Mencintaimu Suamiku.”

Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk keluar.Aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, karena mungkin saja akutakkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama.. lalu suamiku yangtelah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan berbicara padaku.
“Apakah kamu sudah siap?”

Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :
“Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk kedalamrumah ini, cucilah kakinya sebagaimana kamu mencuci kakiku dulu, lalu ketikakalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do’a di ubun-ubunnya sebagaimanayang kamu lakukan padaku dulu. Lalu setelah itu..”, perkataanku terhenti karenatak sanggup aku meneruskan pembicaraan itu, aku ingin menagis meledak.
Tiba-tiba suamiku menjawab “Lalu apa Bunda?”

Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk seketika aku langsungmenatapnya dengan mata yang berbinar-binar…
“Bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan?”, pintaku tuk menyakini bahwakuping ini tidak salah mendengar.
Dia mengangguk dan berkata, “Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa bunda?”,sambil ia mengelus wajah dan menghapus airmataku, dia agak sedikit membungkukkarena dia sangat tinggi, aku hanya sedadanya saja.

Dia tersenyum sambil berkata, “Kita liat saja nanti ya!”. Dia memelukku danberkata, “bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah temui selain mama”.
Kemudian ia mencium keningku, aku langsung memeluknya erat dan berkata, “Ayah,apakah ini akan segera berakhir? Ayah kemana saja? Mengapa Ayah berubah? Akukangen sama Ayah? Aku kangen belaian kasih sayang Ayah? Aku kangen denganmanjanya Ayah? Aku kesepian Ayah? Dan satu hal lagi yang harus Ayah tau, bahwaaku tidak pernah berzinah! Dulu.. waktu awal kita pacaran, aku memang belumbisa melupakannya, setelah 4 bulan bersama Ayah baru bisa aku terima, jika yangdihadapanku itu adalah lelaki yang aku cari. Bukan berarti aku pernah berzinaAyah.” Aku langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata,”Aku minta maaf Ayah, telah membuatmu susah”.

Saat itu juga, diangkatnya badanku.. ia hanya menangis.
Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali. Tiba-tibaperutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres denganku dan iabertanya, “bunda baik-baik saja kan?” tanyanya dengan penuh khawatir.
Aku pun menjawab, “bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu itu sudahmebuatku baik, Yah. Aku hanya tak bisa bicara sekarang”. Karena dia akanmenikah. Aku tak mau membuat dia khawatir. Dia harus khusyu menjalani acaraprosesi akad nikah tersebut.

***


Setelah tiba dimasjid, ijab-qabul pun dimulai. Aku duduk diseberang suamiku.
Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu, membuat hati inicemburu, ingin berteriak mengatakan, “Ayah jangan!!”, tapi aku ingat akan kondisiku.

Jantung ini berdebar kencang saat mendengar ijab-qabul tersebut. Begituijab-qabul selesai, aku menarik napas panjang. Tante Lia, tante yang baik itu,memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan hati ini. Ya… aku kuat.

Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding dipelaminan. Orang-orang yanghadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka melihatku dengan tatapansangat aneh, mungkin melihat wajahku yang selalu tersenyum, tapi dibalik itu..hatiku menangis.
Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja. Tak mencucikakinya. Aku sangat heran dengan perilakunya. Apa iya, dia tidak suka denganpernikahan ini?

Sementara itu Desi disambut hangat di dalam keluarga suamiku, tak seperti akudahulu, yang di musuhi.
Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa? Suamiku akan tidur denganperempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukandidalam sana.
Sepertiga malam pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk berwudhu, laluaku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa ruang tengah. Kudekatilalu kulihat. Masya Allah.. suamiku tak tidur dengan wanita itu, ia ternyatatidur disofa, aku duduk disofa itu sambil menghelus wajahnya yang lelah,tiba-tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.

“Kamu datang ke sini, aku pun tahu”, ia berkata seperti itu. Aku tersenyum danmegajaknya sholat lail. Setelah sholat lail ia berkata, “maafkan aku, aku takboleh menyakitimu, kamu menderita karena ego nya aku. Besok kita pulang keJakarta, biar Desi pulang dengan mama, papa dan juga adik-adikku”

Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku untukistirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja, sudah lamaini tidak terjadi. Ya Allah.. apakah Engkau akan menyuruh malaikat maut untukmengambil nyawaku sekarang ini, karena aku telah merasakan kehadirannya saatini. Tapi.. masih bisakah engkau ijinkan aku untuk merasakan kehangatan darisuamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini..

Suamiku berbisik, “Bunda kok kurus?”
Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan.
Aku pun berkata, “Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi?”
“Aku kangen sama kamu Bunda, aku tak mau menyakitimu lagi. Kamu sudah seringterluka oleh sikapku yang egois.” Dengan lembut suamiku menjawab seperti itu.

Lalu suamiku berkata, “Bun, ayah minta maaf telah menelantarkan bunda.. Selamaayah di Sabang, ayah dengar kalau bunda tidak tulus mencintai ayah, bundaseperti mengejar sesuatu, seperti mengejar harta ayah dan satu lagi.. ayahpernah melihat sms bunda dengan mantan pacar bunda dimana isinya kalau bundagak mau berbuat “seperti itu” dan tulisan seperti itu diberi tanda kutip (“sepertiitu”). Ayah ingin ngomong tapi takut bunda tersinggung dan ayah berpikir kalaubunda pernah tidur dengannya sebelum bunda bertemu ayah, terus ayah dimarahioleh keluarga ayah karena ayah terlalu memanjakan bunda”

Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada kepercayaan didirinya, hanya karena omongan keluarganya yang tidak pernah melihat betapatulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku ini.
Aku hanya menjawab, “Aku sudah ceritakan itu kan Yah. Aku tidak pernah berzinahdan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya mengejar hartamu, mengapaaku memilih kamu? Padahal banyak lelaki yang lebih mapan darimu waktu itu Yah.Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari menangis karenamenderita mencintaimu.”

Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku sendirian dikamarpengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan suamiku danberusaha memaafkannya beserta sikap keluarganya juga.
Karena aku tak mau mati dalam hati yang penuh dengan rasa benci.

***


Keesokan harinya…
Ketika aku ingin terbangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, rahimkusakit sekali.. aku mengalami pendarahan dan suamiku kaget bukan main, ialangsung menggendongku.
Aku pun dilarikan ke rumah sakit..
Dari kejauhan aku mendengar suara zikir suamiku..
Aku merasakan tanganku basah..
Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran.

Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan, “Bunda, Ayah minta maaf…”
Berkali-kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hatiku, apa ia tahu apa yang terjadipadaku?
Aku berkata dengan suara yang lirih, “Yah, bunda ingin pulang.. bunda inginbertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya, Yah..”
“Ayah jangan berubah lagi ya! Janji ya, Yah… !!! Bunda sayang banget samaAyah.”

Tiba-tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakitnya semakin keatas, kakiku sudahtak bisa bergerak lagi.. aku tak kuat lagi memegang tangan suamiku. Kulihatwajahnya yang tampan, berlinang air mata.
Sebelum mata ini tertutup, kulafazkan kalimat syahadat dan ditutup dengankalimat tahlil.

Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku..
Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka..
Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami pacaran sampai kamimenikah.

Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafasku.
Untuk Ibu mertuaku : “Maafkan aku telah hadir didalam kehidupan anakmu sampaiaku hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma.. dari dulu aku selalu berdo’aagar Mama merestui hubungan kami. Mengapa engkau fitnah diriku didepan suamiku,apa engkau punya buktinya Ma? Mengapa engkau sangat cemburu padaku Ma? Fikritetap milikmu Ma, aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari duluaku selalu mengerti apa yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau bencidiriku. Dengan Desi kau sangat baik tetapi denganku menantumu kau bersikapsebaliknya.”

***

Setelah ku buka laptop, kubaca curhatan istriku.
========================

Ayah,mengapa keluargamu sangat membenciku?
Aku dihina oleh mereka ayah.
Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu?
Pernah suatu ketika aku bertemu Dian di jalan, aku menegurnya karena dia adikiparku tapi aku disambut dengan wajah ketidaksukaannya. Sangat terlihat Ayah..
Tapi ketika engkau bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia memanggilkudengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa seperti itu ayah?

Aku tak bisa berbicara tentang ini padamu, karena aku tahu kamu pasti membelaadikmu, tak ada gunanya Yah..
Aku diusir dari rumah sakit.
Aku tak boleh merawat suamiku.
Aku cemburu pada Desi yang sangat akrab dengan mertuaku.
Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku.
Aku sangat marah..
Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela Desi danibunya..

Aku tak mau sakit hati lagi.
Ya Allah kuatkan aku, maafkan aku..
Engkau Maha Adil..
Berilah keadilan ini padaku, Ya Allah..
Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku..
Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja-manja lagi padamu..

Aku kuat ayah dalam kesakitan ini..
Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku..
Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah..
Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu.
Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui.
Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku.
Aku harus sadar diri.
Ayah, sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu.
Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku?
Ayah.. aku masih tak rela.

Tapi aku harus ikhlas menerimanya.
Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya.
Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku.
Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir.
Sebelum ajal ini menjemputku.
Ayah.. aku kangen ayah..

===========


Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu, Bunda..
Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi di Pulau Kayu ini.
Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwana pink yang mencerminkankeceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.
Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur.
Bunda akan selalu hidup dihati ayah.

Bunda.. Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah..
Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku, rambutkutak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.
Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun aku takperduli, hidup dalam kesendirianmu..
Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih bisa tidur denganbelaian tangan Bunda yang halus.

Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda..
Bunda, kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui.
Aku menyesal telah asik dalam ke-egoanku..
Bunda.. maafkan aku.. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu terlihat ditidurmu yang panjang.
Maafkan aku, tak bisa bersikap adil dan membahagiakanmu, aku selalu meng-iyakanapa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka. Maafkan aku ketika kaudi fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu saja.

Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana?
Apakah Bunda tetap menanti ayah disana? Tetap setia dialam sana?
Tunggulah Ayah disana Bunda..
Bisakan? Seperti Bunda menunggu ayah di sini.. Aku mohon..

Ayah Sayang Bunda..

diambil dari fb temanku Zuhay....

· · Share

Senin, 05 September 2011

Belajar dari sang elang


Copas dari twitsnya @Ranggaumara .... Franchineser Pecel Lele Lela

============================================================

1. Elang adlh pasangan yg setia, sekali kawin utk selamanya, FOREVER kalo kata Manusia


2. Elang betina adlh ibu yg teladan, mengurus anak mrk dgn Cinta & Kasih Sayang


3. Sblm bertelur Elang menyiapkan sarang di bukit yg tinggi & dibawahnya jurang yg dalam


4. Rangkanya ranting keras & duri tajam dilapis rumput2 halus dilapis dgn mencabut bulu di dadanya agar sarang anak2nya Enak & Nyaman


5. Stlh bertelur & dierami akhirnya telurnya menetas, kemudian jadilah si Anak Elang...


6. Bila lapar, anak2 elang akan menengadahkan paruhnya, kemudian sang ibu memasukkan makanan hasil buruannya


7. Bila ada angin kencang sang ibu pun Menghadang dgn merentang sayap menutup sarang memberi perlindungan


8. Setelah Anak2 Elang mulai mulai tumbuh besar.....................


9. Perangai sang ibu berubah Drastis & mrk menangis kelaparan "ibu kenapa jd begitu?" kt anak2 elang, si anak elang kaget krn jatah makanan mereka tiba2 dihentikan oleh sang ibu


10. Suatu saat si anak elang kaget lagi krn sang ibu menyingkirkan rumput halus & bulu2 hangat yg jd "kasur" mereka


11. Di sarang mereka,yg tersisa tinggal ranting keras & duri tajam menusuk badan...........


12. Mrk menangis kesakitan, "ibu...... tega nian engkau?"


13. Suatu saat si anak elang kaget ktk mrk diusir dr sarang, didorong keluar jatuh melayang "ibu knp kau mau bunuh anak2mu?" Ketika jatuh hampir sampai dasar jurang, sang ibu menyambar & menyelamatkan.Demikianlah berkali2 mrk dijatuhkan


14. sampai suatu saat anak elang itu mulai bisa mengepakkan sayap & akhirnya TERBANG!!!


15. Sang ibu & bapak elang dgn riang mengajak anak2nya terbang di atas awan lalu belajar mencari binatang buruan


16. Nah...barulah si anak elang SADAR, kalau ortunya sdg mengajarkan kerasnya KEHIDUPAN. Ia harus bisa mandiri di belantara Alam yg kejam utk terus melestarikan Kehidupan


17. Elang mengurus anak2nya dgn penuh CINTA tp ada saatnya harus mereka TEGA .....Supaya anak2nya punya "Mental Juang" dimasa yg akan datang.Bukan jadi ortu yg serba memberi kepada anaknya...sehingga mrk tdk punya Daya Juang... !!!


18.Kalau Tak punya DAYA JUANG...Takkan pernah bisa liat PELUANG...